Namanya Ardi, asal rumahnya dulu berada di Gresik tetapi dia
pindah ke Lamongan beberapa tahun silam. Aku bertemu dengannya setelah diberi “info”
darinya kalau dia sedang main ke Malang. Sebagai kenalan, pastinya aku
menyempatkan untuk bertemu dengannya mumpun ada di Malang dan aku bisa untuk
kesana.
Share lokasi dikirim ke nomorku dan kami bertemu di warung
kopi jalan arah Dau. Sedikit banyak ngobrol dengannya yang sudah memakai hape
baru dengan merek iPhone menjadi topik awal pembahasan kemudian berlanjut ke
banyak cerita dari dirinya yang sudah diwisuda bulan September kemarin.
Jurusan pendidikan ga cocok denganku. Itulah yang dia ucapkan
ketika ngobrol santai siang hari. Dia berfikiran bahwa sebagai seorang lelaki,
kita butuh pekerjaan yang menghasilkan uang. Pemikiran itu pasti juga kudapati
dalam kepala bahwa profesi sebagai pendidik sekarang lebih condong kepada pengabdian,
bukan pekerjaan.
Melihat banyaknya guru yang memiliki gaji sedikit seringkali
menancapkan overthinking pada lulusan mahasiswa pendidikan, khususnya mahasiswa.
Kebingungan melanda ketika memasuki semester akhir karena tugas akhir yang menanti
dan kebutuhan kerja yang harus menghasilkan uang membayangi.
Aku juga semester akhir dan juga kepikiran tentang hal
tersebut. Terpikir dalam benakku pekerjaan apa yang tidak membutuhkan gelar
tetapi memiliki jaminan ekonomi yang cukup?
Tak lama berselang aku ngobrol bersama Ardi, datanglah salah
satu alumni sekolah juga yang sama menempuh pendidikan di kota Malang. Nico
datang diantar oleh ojol. Temanku satu ini baru saja lulus menempuh jurusan
Informatika di Politeknik Negeri malang. Outfit simpel dan masih membawa tas
yang sama seperti dulu berisi laptop yang sama pula.
Aku memberi garis bawah pada temanku satu ini dengan konsep “beli
jika butuh”. Itu yang kulihat darinya dengan alat belajarnya memakai laptop
yang masih cukup katanya sebagai alat belajar dan pencari uang baginya. Mengingatkanku
pada keinginanku untuk membeli laptop baru padahal sebenarnya laptop yang
kupakai ngetik ini masih mumpuni untuk sekadar ngetik dan lainnya.
Sebentar setelah Nico datang, Ardi kembali pulang ke
Lamongan. Aku dan Nico masih santai ngobrol hingga adzan ashar dikumandangkan. Dia
menunjukkan barang hobinya berupa IEM (in ear monitor), dia memintaku
mencobanya dan aku menanggapi untuk kucoba nanti. Sharing tentang semua yang
diketahuinya dalam IT seperti pekerjaannya di Pondok Sunan Drajad Lamongan
hingga perkembangan manajemennya.
Jika dilihat dalam sudut pandang jurusan, tidak terlalu penting
dan pengaruh jika dilihat luarnya saja. Ketika kulihat dari sudut pandang pendidikan
IT tentu aku paham ternyata banyak celah pada kampusku di UIN.
Pendidikan di Politeknik sangat efektif dalam
pembelajarannya. Dimulai dari pemberian materinya, penggunaan sumber daya yang
dimiliki, hingga tingkat penerapannya sangat ketat dan efektif. Kemungkinan kecil
adanya egoisme disana karena mereka saling bahu-membahu ketika membutuhkan. Itulah
yang membedakan kampusnya dan kampusku.
Setelah membadingkan kampus kami, dia juga bercerita tentang
cepatnya perkembangan teknologi di tempat kerjanya. Implementasi hal baru selalu
diterima dan diimplementasikan sesuai kebutuhan menjadikan perekonomian meningkat
drastis. Dengan adanya manajemen yang bagus, aku menangkap ternyata dibutuhkan
juga power kekuasaan di tangan yang tepat.
Pentingnya kekuasaan di tangan yang tepat merupakan salah
satu kuci dari suksesnya perkembangan apapun di Pondok Sunan Drajad. Penerimaan
dan implementasi teknologi yang tepat menjadikannya pondok besar di daerah
pantai utara. Aku dan Nico berusaha memahami dan membandingkan dengan pondok
tempat kami sekola dulu, bagaimana caranya pondok kami dapat seperti itu.
Percakapan melebar ke segmen lingkungan kami di Lamongan,
dimana orang-orang masih memiliki daya pikir logika yang terhambat. Kejadian yang
seharusnya dapat dijelaskan dengan logika, mereka sangka sebagai kejadian mistis
dan mirisnya pemikiran tersebut turun temurun. Pemikiran kritis dan logis
terhadap suatu fenomena masih jarang diterapkan di tempat asal kami, turut
prihatin tetapi apadaya yang bisa kami lakukan sekarang ini belum ada.
Kami berbincang cukup lama hingga pada akhirnya aku memutuskan
untuk kembali mengerjakan tugasku. Selagi menunggu ojol nico datang, aku
mencoba IEM yang melebihi harga smartphoneku. Memang rasa dan harga harus sebanding
dan itulah yag kurasakan ketika mencobanya. Barang itu merupakan hobinya, jadi tidak
bisa disebut mahal karena ada poin positif yang menjadi kelebinannya.
Semua perbincangan tadi tidak ada yang menyangkut pendidikanku,
tetapi pada akhirnya aku sadar ternyata ilmu pengetahuan akan saling
berhubungan, saling bersinergi dalam membentuk pengetahuan baru yang lebih baik.
Teknologi, pendidikan, agama merupakan cabang yang berbeda tetapi jika
integrasi mereka dilaksanakan sesuai kebutuhan, ternyata sangat bagus dan
bahkan menjadi terobosan terbaru.
Tidak ada ilmu yang sia-sia. Semua hal yang telah dipelajari
akan bermanfaat di masa depan baik baik yang berhubungan denganmu, ataupun yang
sama sekali tidak berhubungan dengan hidupmu. Semua pasti akan terpakai.
SALAM LOGIS, SALAM KRITIS

0 komentar: