Subscribe Us

Pengalaman merupakan guru terbaik, itulah kata kata yang dipercaya semua orang. Siang ini tanggal 29 oktober 2024 aku didatangi oleh salah s...


Pengalaman merupakan guru terbaik, itulah kata kata yang dipercaya semua orang. Siang ini tanggal 29 oktober 2024 aku didatangi oleh salah satu temanku dari kota asalku, Lamongan. Dia datang kesini (malang) hanya untuk berlibur di tempat ang dianggap biasa oleh sebagian penduduk kota Malang, yaitu Bedengan.

Namanya Ardi, asal rumahnya dulu berada di Gresik tetapi dia pindah ke Lamongan beberapa tahun silam. Aku bertemu dengannya setelah diberi “info” darinya kalau dia sedang main ke Malang. Sebagai kenalan, pastinya aku menyempatkan untuk bertemu dengannya mumpun ada di Malang dan aku bisa untuk kesana.

Share lokasi dikirim ke nomorku dan kami bertemu di warung kopi jalan arah Dau. Sedikit banyak ngobrol dengannya yang sudah memakai hape baru dengan merek iPhone menjadi topik awal pembahasan kemudian berlanjut ke banyak cerita dari dirinya yang sudah diwisuda bulan September kemarin.

Jurusan pendidikan ga cocok denganku. Itulah yang dia ucapkan ketika ngobrol santai siang hari. Dia berfikiran bahwa sebagai seorang lelaki, kita butuh pekerjaan yang menghasilkan uang. Pemikiran itu pasti juga kudapati dalam kepala bahwa profesi sebagai pendidik sekarang lebih condong kepada pengabdian, bukan pekerjaan.

Melihat banyaknya guru yang memiliki gaji sedikit seringkali menancapkan overthinking pada lulusan mahasiswa pendidikan, khususnya mahasiswa. Kebingungan melanda ketika memasuki semester akhir karena tugas akhir yang menanti dan kebutuhan kerja yang harus menghasilkan uang membayangi.

Aku juga semester akhir dan juga kepikiran tentang hal tersebut. Terpikir dalam benakku pekerjaan apa yang tidak membutuhkan gelar tetapi memiliki jaminan ekonomi yang cukup?

Tak lama berselang aku ngobrol bersama Ardi, datanglah salah satu alumni sekolah juga yang sama menempuh pendidikan di kota Malang. Nico datang diantar oleh ojol. Temanku satu ini baru saja lulus menempuh jurusan Informatika di Politeknik Negeri malang. Outfit simpel dan masih membawa tas yang sama seperti dulu berisi laptop yang sama pula.

Aku memberi garis bawah pada temanku satu ini dengan konsep “beli jika butuh”. Itu yang kulihat darinya dengan alat belajarnya memakai laptop yang masih cukup katanya sebagai alat belajar dan pencari uang baginya. Mengingatkanku pada keinginanku untuk membeli laptop baru padahal sebenarnya laptop yang kupakai ngetik ini masih mumpuni untuk sekadar ngetik dan lainnya.

Sebentar setelah Nico datang, Ardi kembali pulang ke Lamongan. Aku dan Nico masih santai ngobrol hingga adzan ashar dikumandangkan. Dia menunjukkan barang hobinya berupa IEM (in ear monitor), dia memintaku mencobanya dan aku menanggapi untuk kucoba nanti. Sharing tentang semua yang diketahuinya dalam IT seperti pekerjaannya di Pondok Sunan Drajad Lamongan hingga perkembangan manajemennya.

Jika dilihat dalam sudut pandang jurusan, tidak terlalu penting dan pengaruh jika dilihat luarnya saja. Ketika kulihat dari sudut pandang pendidikan IT tentu aku paham ternyata banyak celah pada kampusku di UIN.

Pendidikan di Politeknik sangat efektif dalam pembelajarannya. Dimulai dari pemberian materinya, penggunaan sumber daya yang dimiliki, hingga tingkat penerapannya sangat ketat dan efektif. Kemungkinan kecil adanya egoisme disana karena mereka saling bahu-membahu ketika membutuhkan. Itulah yang membedakan kampusnya dan kampusku.

Setelah membadingkan kampus kami, dia juga bercerita tentang cepatnya perkembangan teknologi di tempat kerjanya. Implementasi hal baru selalu diterima dan diimplementasikan sesuai kebutuhan menjadikan perekonomian meningkat drastis. Dengan adanya manajemen yang bagus, aku menangkap ternyata dibutuhkan juga power kekuasaan di tangan yang tepat.

Pentingnya kekuasaan di tangan yang tepat merupakan salah satu kuci dari suksesnya perkembangan apapun di Pondok Sunan Drajad. Penerimaan dan implementasi teknologi yang tepat menjadikannya pondok besar di daerah pantai utara. Aku dan Nico berusaha memahami dan membandingkan dengan pondok tempat kami sekola dulu, bagaimana caranya pondok kami dapat seperti itu.

Percakapan melebar ke segmen lingkungan kami di Lamongan, dimana orang-orang masih memiliki daya pikir logika yang terhambat. Kejadian yang seharusnya dapat dijelaskan dengan logika, mereka sangka sebagai kejadian mistis dan mirisnya pemikiran tersebut turun temurun. Pemikiran kritis dan logis terhadap suatu fenomena masih jarang diterapkan di tempat asal kami, turut prihatin tetapi apadaya yang bisa kami lakukan sekarang ini belum ada.

Kami berbincang cukup lama hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk kembali mengerjakan tugasku. Selagi menunggu ojol nico datang, aku mencoba IEM yang melebihi harga smartphoneku. Memang rasa dan harga harus sebanding dan itulah yag kurasakan ketika mencobanya. Barang itu merupakan hobinya, jadi tidak bisa disebut mahal karena ada poin positif yang menjadi kelebinannya.

Semua perbincangan tadi tidak ada yang menyangkut pendidikanku, tetapi pada akhirnya aku sadar ternyata ilmu pengetahuan akan saling berhubungan, saling bersinergi dalam membentuk pengetahuan baru yang lebih baik. Teknologi, pendidikan, agama merupakan cabang yang berbeda tetapi jika integrasi mereka dilaksanakan sesuai kebutuhan, ternyata sangat bagus dan bahkan menjadi terobosan terbaru.

Tidak ada ilmu yang sia-sia. Semua hal yang telah dipelajari akan bermanfaat di masa depan baik baik yang berhubungan denganmu, ataupun yang sama sekali tidak berhubungan dengan hidupmu. Semua pasti akan terpakai.

SALAM LOGIS, SALAM KRITIS