Subscribe Us

Mirisnya minat baca di Indonesia sangat dirasakan terutama bagi mayoritas warga negara yang beragama Islam, mengabaikan ayat pertama al-Qur’...

Mirisnya minat baca di Indonesia sangat dirasakan terutama bagi mayoritas warga negara yang beragama Islam, mengabaikan ayat pertama al-Qur’an yang turun. Begitulah pendapat Arifin Elham Saputra ketika diwawancarai terkait minat baca mahasiswa pada 15 Oktober 2024.

Arifin merupakan mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (disingkat dengan UIN Malang). Dia masih melaksanakan pendidikan di universitas tersebut pada jurusan Pendidikan Agama Islam dan telah menempuh tujuh semester hingga saat ini. Buku merupakan sahabatnya dimanapun dia berada, waktu sempit tak membiarkannya berpisah dari rutinitas yang telah dia jalankan.

Wawancara yang telah dilaksanakan di Masjid tarbiyah UIN Malang, mengupas pendapat dari Arifin mengenai kebutuhan mahasiswa pendidikan saat ini. Dia berpendapat bahwa peningkatan kualitas guru dapat didongkrak dengan meningkatkan minat baca buku oleh calon pendidik yang sedang menempuh pendidikan guru.

“Membaca buku adalah kewajiban mahasiswa”. Penghobi membaca ini memberikan penguatan terhadap pentingnya membaca buku. membaca buku telah dilakukan secara rutin oleh mahasiswa pendidikan agama satu ini, menyempatkan diri membaca buku telah dia lakukan setiap hari. Pemuda ini berharap mahasiswa lainnya juga memiliki rutinitas produktif dengan membaca buku.

UNESCO sebagai badan pengelola pendidikan dari PBB menyebutkan bahwa indeks minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Secara persentase minat baca Indonesia masih di angka 0,001% dalam artian lain hanya 1 diantara 1000 yang memiliki minat baca.

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo) menyebutkan dalam laman resminya tentang hasil riset berjudul “World’s Most Literate Nations Ranked’ yang dilaksanakan oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara pada bidang minat baca. Indonesia persis dibawah Thailand (59) dan diatas Bostwana (61).

Meskipun dunia mahasiswa selalu padat dengan kegiatan kampus dan tugas-tugas yang membludak, Arifin tetap menyempatkan diri membaca dimanapun ia berada. Waktu diantara pergantian mata perkuliyahan bukan hambatan baginya untuk tetap membaca, bahkan bisa menjadi kesempatan bagus untuk mengisi waktu luang baginya.

Pada masa ini, E-book telah populer pada seluruh kalangan terutama mahasiswa. E-book menjadi pilihan membaca buku kalangan anak muda karena mudah diakses dan dibawa kemanapun selama ada perangkat untuk membukanya.

Bertahan dengan buku fisik menjadi pilihan Arifin dalam menunjang hobi membacanya. Pembaca satu ini kurang suka membaca E-book karena pusing ketika menatap monitor terlalu lama. Nuansa membaca juga berkurang ketika membaca E-book meskipun keduanya sama-sama menyajikan informasi. Dia tetap bersikukuh memilih buku fisik daripada E-book.

“Setiap satu bulan minimal saya harus beli buku”. Selain rutin membaca, Arifin juga rutin dalam membeli buku di Gramedia ketika kondisi keuangannya sedang baik. Rutinitas tersebut dilakukannya pada saat kondisi mendukung, ketika ada keperluan yang lebih mendesak maka mengurungkan niat menjadi pilihan terbaiknya. Selain membeli buku, jalan-jalan ke gramedia juga dia sempatkan ketika ingin membaca atau saat sumpek. Tanpa membeli, hanya untuk melihat buku saja dapat meningkatkan mood menurutnya.

Dikutip dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementrian Hukum & HAM R.I. “Hak Cipta merupakan salah satu bagian dari kekayaan intelektual yang memiliki ruang lingkup objek dilindungi paling luas, karena mencakup ilmu pengetahuan, seni dan sastra (art and literary) yang di dalamnya mencakup pula program komputer”. Buku merupakan salah satu karya yang masuk dalam kriteria Hak Cipta, baik berupa terbitan kertas maupun E-book.

Sebagai seorang pembaca dan penikmat buku fisik, pemuda 22 tahun ini tidak setuju dengan cara mendapatkan buku yang mengandung unsur illegal seperti buku bajakan atau buku PDF yang diperoleh secara illegal. Perilaku tersebut jelas menyalahi Hak Cipta, tetapi Arifin menambahkan bahwa beberapa jenis buku dapat diperbanyak dan dibagikan denga bebas tanpa menyalahi aturan Hak Cipta.

Mengingat cara meningkatkan kualitas guru dapat melalui peningkatan minat baca, Arifin memberikan beberapa tips untuk para pembaca. membaca buku dengan topik yang disukai merupakan tips awal bagi seorang pembaca, kemudian membeli buku yang diminati menjadi tips lanjutan dengan maksud memberikan beban moral pembaca karena sudah membeli tetapi tidak dibaca.

Arifin juga berpesan kepada masyarakat yang sudah terbiasa membaca buku jangan merasa paling bijaksana, dan untuk masyarakat yang sudah terbiasa membaca untuk mulai membaca buku untuk membuka gerbang ilmu pengetahuan.

Pengalaman merupakan guru terbaik, itulah kata kata yang dipercaya semua orang. Siang ini tanggal 29 oktober 2024 aku didatangi oleh salah s...


Pengalaman merupakan guru terbaik, itulah kata kata yang dipercaya semua orang. Siang ini tanggal 29 oktober 2024 aku didatangi oleh salah satu temanku dari kota asalku, Lamongan. Dia datang kesini (malang) hanya untuk berlibur di tempat ang dianggap biasa oleh sebagian penduduk kota Malang, yaitu Bedengan.

Namanya Ardi, asal rumahnya dulu berada di Gresik tetapi dia pindah ke Lamongan beberapa tahun silam. Aku bertemu dengannya setelah diberi “info” darinya kalau dia sedang main ke Malang. Sebagai kenalan, pastinya aku menyempatkan untuk bertemu dengannya mumpun ada di Malang dan aku bisa untuk kesana.

Share lokasi dikirim ke nomorku dan kami bertemu di warung kopi jalan arah Dau. Sedikit banyak ngobrol dengannya yang sudah memakai hape baru dengan merek iPhone menjadi topik awal pembahasan kemudian berlanjut ke banyak cerita dari dirinya yang sudah diwisuda bulan September kemarin.

Jurusan pendidikan ga cocok denganku. Itulah yang dia ucapkan ketika ngobrol santai siang hari. Dia berfikiran bahwa sebagai seorang lelaki, kita butuh pekerjaan yang menghasilkan uang. Pemikiran itu pasti juga kudapati dalam kepala bahwa profesi sebagai pendidik sekarang lebih condong kepada pengabdian, bukan pekerjaan.

Melihat banyaknya guru yang memiliki gaji sedikit seringkali menancapkan overthinking pada lulusan mahasiswa pendidikan, khususnya mahasiswa. Kebingungan melanda ketika memasuki semester akhir karena tugas akhir yang menanti dan kebutuhan kerja yang harus menghasilkan uang membayangi.

Aku juga semester akhir dan juga kepikiran tentang hal tersebut. Terpikir dalam benakku pekerjaan apa yang tidak membutuhkan gelar tetapi memiliki jaminan ekonomi yang cukup?

Tak lama berselang aku ngobrol bersama Ardi, datanglah salah satu alumni sekolah juga yang sama menempuh pendidikan di kota Malang. Nico datang diantar oleh ojol. Temanku satu ini baru saja lulus menempuh jurusan Informatika di Politeknik Negeri malang. Outfit simpel dan masih membawa tas yang sama seperti dulu berisi laptop yang sama pula.

Aku memberi garis bawah pada temanku satu ini dengan konsep “beli jika butuh”. Itu yang kulihat darinya dengan alat belajarnya memakai laptop yang masih cukup katanya sebagai alat belajar dan pencari uang baginya. Mengingatkanku pada keinginanku untuk membeli laptop baru padahal sebenarnya laptop yang kupakai ngetik ini masih mumpuni untuk sekadar ngetik dan lainnya.

Sebentar setelah Nico datang, Ardi kembali pulang ke Lamongan. Aku dan Nico masih santai ngobrol hingga adzan ashar dikumandangkan. Dia menunjukkan barang hobinya berupa IEM (in ear monitor), dia memintaku mencobanya dan aku menanggapi untuk kucoba nanti. Sharing tentang semua yang diketahuinya dalam IT seperti pekerjaannya di Pondok Sunan Drajad Lamongan hingga perkembangan manajemennya.

Jika dilihat dalam sudut pandang jurusan, tidak terlalu penting dan pengaruh jika dilihat luarnya saja. Ketika kulihat dari sudut pandang pendidikan IT tentu aku paham ternyata banyak celah pada kampusku di UIN.

Pendidikan di Politeknik sangat efektif dalam pembelajarannya. Dimulai dari pemberian materinya, penggunaan sumber daya yang dimiliki, hingga tingkat penerapannya sangat ketat dan efektif. Kemungkinan kecil adanya egoisme disana karena mereka saling bahu-membahu ketika membutuhkan. Itulah yang membedakan kampusnya dan kampusku.

Setelah membadingkan kampus kami, dia juga bercerita tentang cepatnya perkembangan teknologi di tempat kerjanya. Implementasi hal baru selalu diterima dan diimplementasikan sesuai kebutuhan menjadikan perekonomian meningkat drastis. Dengan adanya manajemen yang bagus, aku menangkap ternyata dibutuhkan juga power kekuasaan di tangan yang tepat.

Pentingnya kekuasaan di tangan yang tepat merupakan salah satu kuci dari suksesnya perkembangan apapun di Pondok Sunan Drajad. Penerimaan dan implementasi teknologi yang tepat menjadikannya pondok besar di daerah pantai utara. Aku dan Nico berusaha memahami dan membandingkan dengan pondok tempat kami sekola dulu, bagaimana caranya pondok kami dapat seperti itu.

Percakapan melebar ke segmen lingkungan kami di Lamongan, dimana orang-orang masih memiliki daya pikir logika yang terhambat. Kejadian yang seharusnya dapat dijelaskan dengan logika, mereka sangka sebagai kejadian mistis dan mirisnya pemikiran tersebut turun temurun. Pemikiran kritis dan logis terhadap suatu fenomena masih jarang diterapkan di tempat asal kami, turut prihatin tetapi apadaya yang bisa kami lakukan sekarang ini belum ada.

Kami berbincang cukup lama hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk kembali mengerjakan tugasku. Selagi menunggu ojol nico datang, aku mencoba IEM yang melebihi harga smartphoneku. Memang rasa dan harga harus sebanding dan itulah yag kurasakan ketika mencobanya. Barang itu merupakan hobinya, jadi tidak bisa disebut mahal karena ada poin positif yang menjadi kelebinannya.

Semua perbincangan tadi tidak ada yang menyangkut pendidikanku, tetapi pada akhirnya aku sadar ternyata ilmu pengetahuan akan saling berhubungan, saling bersinergi dalam membentuk pengetahuan baru yang lebih baik. Teknologi, pendidikan, agama merupakan cabang yang berbeda tetapi jika integrasi mereka dilaksanakan sesuai kebutuhan, ternyata sangat bagus dan bahkan menjadi terobosan terbaru.

Tidak ada ilmu yang sia-sia. Semua hal yang telah dipelajari akan bermanfaat di masa depan baik baik yang berhubungan denganmu, ataupun yang sama sekali tidak berhubungan dengan hidupmu. Semua pasti akan terpakai.

SALAM LOGIS, SALAM KRITIS

Budaya seharusnya menjadi sebuah peninggalan bersejarah yang tetap di jaga sampai sekarang. Budaya harus dititipkan kepada generasi muda seh...



Budaya seharusnya menjadi sebuah peninggalan bersejarah yang tetap di jaga sampai sekarang. Budaya harus dititipkan kepada generasi muda sehingga menjadi generasi yang tau diri akan identitas bangsa, namun pada kenyataanya budaya hanyalah menjadi sejarah tertulis dan pada akhirnya budaya hanyalah cerita belaka. Begitupun adat daerah yang seakan mulai hilang tergerus zaman sampai-sampai diadopsi oleh negara lain.

Meskipun tergerus zaman dan ditinggalkan, tetapi masih ada adat dan budaya yang terus berjalan seiring meluasnya dakwah islam. Sehingga adat istiadat yang berbau selain islam dapat dikolaborasikan oleh para alim yang menyebarkan islam di pulau jawa, yaitu walisongo. Mereka ialah sekumpulan ahli ibadah yang berjuang menyebarkan agama islam di pulau jawa demi membebaskan manusia dari kegelapan dan kebodohan. Sehingga didapatlah beberapa adat istiadat yang pada awalnya merupakan milik agama lain sebelum islam tersebar yaitu agama Budha dan Hindu seperti beberapa kegiatan keagamaan dan kebudayaan di daerah tempat tinggal penulis, yaitu desa Payaman.

Desa ini terletak jauh dari perkotaan yang diapit oleh beberapa desa. Sisi utara bebatasan dengan desa Sendangaung dan desa Kranji, sisi timur berbatasan dengan desa Banyubang, sisi selatan berbatasan dengan desa Solokuro dan desa Godok, kemudian sebelah Barat berbatasan dengan desa Tenggulun. Walaupun terletak di tengah-tengah dan dikelilingi sawah dan hutan, desa Payaman merupakan desa yang ramai sehingga mempunyai kantor Bank BRI serta Indomaret. Desa yang dikepalai oleh bapak Musta’in Romli ini memiliki banyak dusun yang aktif ditempati penduduk.

Diantara dusun-dusun tersebut adalah dusun tempat berdirinya rumah penulis, yaitu dusun Sawo. Dusun ini terletak di sebelah tengah dari desa payaman dan merupakan dusun terpadat di desa Payaman. Sebelah utara dari dusun Sawo ada dusun Ringin, merupakan dusun pusat bertempatnya bagunan aktifitas kemasyarakatan seperti balai desa, masjid, pasar tradisional, sekolah dasar dan lain sebagainya. Selanjutnya ada dusun gayam, dusun Karangasem, dusun Palirangan, dusun Gobango yang memiliki waduk dan yang terakhir adalah dusun Sejajar yang terletak terpencil di dekat perbatasan desa Kranji.

Mayoritas agama masyarakat desa payaman adalah islam, itulah yang membuat desa Payaman memiliki 2 masjid yang dibangun oleh 2 ormas yang berbeda, yaitu NU dan Muhammadiyah. Kedua ormas ini rukun dan beriringan di desa kecil ini meskipun memiliki masjid yang berbeda. Misalnya pada waktu hari raya, terkadang salah satu ormas melaksanakanya duluan tapi mereka tetap menghormati ormas lainya dengan melaksanakan “kluputan” (mushofahah antar tetangga dan keluarga) pada waktu bersamaan dengan ormas lainya atau ketika NU megundang untuk “tahlilan” maka Muhammadiyah tetap memenuhi undanganya begitulah kerukunan antar ormas yang ada di payaman. ini sesuai dengan ajaran agama islam tentang pentingnya toleransi, tidak mengedepankan keegoisan salah satu umat dan alhamdulillah hal ini berjalan lacar di desa Payaman di setiap kegiatan.

Meskipun desa Payaman adalah desa yang termasuk desa kecil, tetapi desa ini sangat antusias dalam mengembangkan keilmuan masyarakat dibuktikan dengan banyaknya lembaga pendidikan yang tersebar di seluruh bagian dusun. Diantara lembaga pedidikan tersebut adalah Darul Maaarif (dusun Sawo), Roudlotul Mutaabidin (dusun Karangasem), Al-Aman (dusun Ringin), Perguruan Muhammadiyah Palirangan (dusun Palirangan), Perguruan Muhammadiyah Ringin (dusun Ringin). Selebihnya dari beberapa lembaga tersebut merupakan lembaga pendidikan terpisah seperti halnya SD, MI, SMP, dan lain sebagainya. Lembaga pendidikan ini masing-masing memiliki basis keagaman yang berbeda yaitu NU dan Muhammadiyah. Meskipun begitu tidak pernah ada isu taruwan siswa antar masdrasah, semua rukun dan saling memegang akidah masing masing.

Masyarakat desa Payaman sangatlah rukun terutama dalam hal gotong royong seperti halnya saat ini banyak yang menikah karena bulan Syawal maka sering juga ada budaya “landang”. Landang merupakan gotong-royong ibu-ibu dalam menyiapkan makanan secara bersama sama yang akan disajikan pada waktu walimah (pesta pernikahan). Para ibu-ibu pada kegiatan ini tidak mengharap balasan tapi mereka melakukannya secara sukarela karena mereka sudah tau tugas mereka dalam tolong menolong antar masyarakat dan ini sangat sesuai dengan ajaran agama islam yang mengedepankan ketentraman umat.

Sering juga di desa Payaman ada suatu kegiatan doa bersama yang biasa disebut sebagai “Bacaan” (suatu tradisi doa bersama disertai pembagian sedekah berupa nasi atau makanan rigan. Tradisi ini biasanya dilaksanakan oleh pribadi dalam rangka syukuran atau meminta doa kepada tetangga supaya dilancarkan pekerjaannya). Dalam kegiatan Bacaan, rata-rata yang menghadiri adalah kaum perempuan baik itu dewasa maupun anak-anak dengan maksud sebagai perwakilan dari setiap kelurga. Ini merupakan sebuah warisan dari sunan kalijaga yang awalnya memang bukan tradisi islam tapi merupakan tradisi Hindu/Buhda kemudian dalam penyebaran islam di pulau jawa, maka tradisi ini di plesetkan dengan disisipi doa yang bertujuan untuk doa bersama. Tradisi Bacaan memang termasuk dalam bid’ah tetapi bid’ah yang baik atau bid’ah hasanah.

Kearena mayoritas masyarakat Payaman adalah muslim, banyak kegiatan keagamaan di desa kecil ini. kegiatan keagamaan yang dimaksud penulis misalnya Dzibaan di masjid NU yang biasanya dilaksanakan pada malam selasa dan dihadiri oleh kebanyakan orang tua. Untuk pemuda biasanya melaksanakan di setiap lembaga pedidikannya pada malam Jum’at dengan diiringi rebana sedangkan di masjid NU tidak memakai rebana, mereka para orang tua lebih suka menggunakan Dzibaan klasik ala orang tua.

Kegiatan keagamaan yang lain adalah tahlilan yang pasti kita semua sudah tidak asing mendengarnya. Tahlilan ini biasanya dilakukan untuk memperingati hari kematian anggota keluarganya, misalnya pada malam hari kematiannya, malam 3 harinya, 7 harinya, 1 bulan 1 tahun, dan seterusnya. Walaupun kegiatan tahlil ini lebih dipercayai oleh masyarakat NU, tidak menutup kemungkinan masyarakat Muhammadiyah juga tetap menghadirinya dengan maksud menghargai orang yang mengundang. Kegiatan Tahlilan ini biasanya dihadiri oleh tetangga yang masih satu RT dan keluarga dari yang mengadakan. Dalam tahlil yang dibaca adalah potongan-potongan ayat Al-Quran sehingga dalam artian lain kita membaca Alquran secara bersamaan dan merupakan bidah hasanah juga.

Ada juga selain Dzibaan dan Tahlilan, yaitu haul pendiri yayasan pendidikan yang biasa dilaksankan oleh masing masing lembaga pendidikan. Event keagamaan yang wajar di seleruh penjuru Indonesia dengan didalamnya ada berbagai acara mulai dari sejarah, doa bersama, ziarah kubur, tahlil dan lain sebagainya acara ini bertujuan untuk mengenang jasa pendiri lembaga pendidikan yang membawa desa Payaman semakin maju dengan pemikiran yang terpelajar. Penulis pernah mendengar suatu pernyataan pada saat mengaji di pondok, yaitu mengapa Nabi diperingati hari lahirnya sedangkan para alim ulama diperingati hari wafatnya (haul)? Kemudian dijawab oleh gurunya “Nabi sudah pasti baik dari awal sampai akhir sedangkan para ulama kita tau mereka baik pada akhirnya” begitulah alasanya.

Dari dulu hingga sekarang tidak banyak budaya dan adat istiadat yang ada di desa Payaman karena desa payaman tergolong desa yang sudah kenal islam sejak tempat ini disinggahi penduduk. Jadi kebanyakan adat dan budaya masyarakat adalah budaya yang diwariskan oleh walisongo.Walaupun sudah banyak lembaga pendidikan di desa Payaman, namun masih belum ada satupun perguruan tinggi di desa ini padahal di sesa kranji sudah terdapat perguruan tinggi. Jika dilihat dari segi masyarakatnya mungkin sangat cocok untuk dibuka satu perguruan tinggi, karena sebab itu banyak lulusan sekolah menengah di desa Payaman melanjutkan pendidikan di luar desa maupun luar kota, padahal mahasiswa dan lulusanya memiliki peran yang sangat penting bagi perkembangan desa.

Mahasiswa sebagai agent of change memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan sebuah desa, pada perjalanannya mahasiswa bertugas sebagai penerus generasi tua yang pada saat ini butuh banyak pengganti. Mahasiswa dalam mengganti generasi tua seharusnya bisa masuk dengan mudah karena teknologi yang semakin cocok dengan pemuda saat ini. mereka dapat menjadi apapun seperti halnya mahasiswa di desa payaman yang mayoritas dari mereka bersekolah tingi di luar desa namun mereka kembali ke desa Payaman lagi, TU balai desa Payaman salah satunya. Beliau patut dicontoh dalam perkembangan desa yang semakin maju dengan teknologi. Kita dapat menirunya dalam bidang yang kita kuasai misalnya penulis dalam bidang pendidikan dapat membatu mengembangkan kualitas adik-adik yang masih bersekolah di desa.

Saat itu 1 Oktober 1965, sekitar pukul 03.00 WIB, Sukitman bersama rekannya sedang berjaga dan patroli malam. Dengan menggunakan sepeda dan ...

Saat itu 1 Oktober 1965, sekitar pukul 03.00 WIB, Sukitman bersama rekannya sedang berjaga dan patroli malam. Dengan menggunakan sepeda dan menenteng senjata, Sukitman berpatroli di Seksi Vm Kebayoran Baru (sekarang Kores 704) yang berlokasi di Wisma AURI di Jl. Iskandarsyah, Jakarta, bersama Sutarso yang berpangkat sama, yakni Agen Polisi Dua.


"Waktu itu polisi naik sepeda. Sedangkan untuk melakukan patroli, kadang-kadang kami cukup dengan berjalan kaki saja, karena radius yang harus dikuasai adalah sekitar 200 meter” kata Sukitman dalam wawancara.

Saat itu, Sukitman mendengar seperti suara tembakan yang cukup kencang, Ia pun berinisiatif untuk menuju sumber suara itu. Ternyata suara itu berasal dari rumah Jenderal D.I. Panjaitan yang terletak di Jln. Sultan Hasanudin.

"Di situ sudah banyak pasukan bergerombol."

Belum sempat tahu apa yang terjadi di situ, tiba-tiba Sukitman dikejutkan oleh teriakan tentara berseragam loreng dan berbaret merah yang berusaha mencegatnya.

"Turun! Lempar senjata dan angkat tangan!"

Sukitman, yang waktu itu baru berusia 22 tahun, kaget dan lemas. Sukitman segera turun dari sepeda dan melemparkan senjata lalu angkat tangan. Dalam kondisi ditodong senjata dan tangannya diikat, lalu Sukitman dimasukkan ke dalam mobil.

"Saya didorong dilemparkan ke dalam mobil, tepatnya disamping supir di bawah kabin," ungkapnya.

Selama dibawa beberapa menit perjalanan, Sukitman masih ingat arah jalan mana ia dibawa. Mobil itu bergerak ke Jalan Wolter Mongisidi hingga ke arah Mampang, setelah itu Sukitman tak ingat lagi.

Hari sudah mulai pagi, dan samar-samar suasana di sekelilingnya agak terlihat
Sukitman dibawa ke sebuah tempat yang tidak ia kenali Pada waktu itu, Sukitman selewat mendengar ucapan "Yani wis dipateni" (Yani sudah dibunuh) Tak lama kemudian seorang tentara yang menghampiri Sukitman dan segera menyeretnya ke dalam tenda Tentara tersebut segera melapor kepada atasannya, "Pengawal Jenderal Panjaitan ditawan Tentara itu menyangka kalau Sukitman adalah pengawal jendral Panjaitan.

Meskipun waktu itu masih remang-remang. di dalam tenda Sukitman sempat mengamati keadaan sekelilingnya. Sukitman melihat beberapa orang dalam kondisi terikat, lalu didudukkan di kursi. Sukitman juga melihat ada beberapa lainnya yang tergeletak di bawah dengan kondisi berlumuran darah Lalu Sukitman dibawa keluar tenda dan didorong ke arah teras rumah. Di teras rumah itu, Sukitman melihat ada papan tulis dan bangku-bangku sekolah tertata rapi.

Sukitman bisa melihat dengan jelas sekelompok orang mengerumuni sebuah sumur sambil berteriak, Ganyang kabir, ganyang kabir!" ke dalam sumur itu dimasukkan tubuh manusia yang dibawa entah dari mana, kemudian langsung disusul oleh berondongan peluru. "Istilah itu kabir maksudnya kapitalis birokrat, terang Sukitman. Sukitman sempat melihat seorang tawanan dalam keadaan masih hidup dengan pangkat bintang dua di pundaknya, mampir sejenak di tempatnya ditawan.

"Setelah tutup matanya dibuka dan ikatannya dibebaskan, dengan todongan senjata, sandera itu dipaksa untuk menandatangani sesuatu. Tapi kelihatannya ia menolak dan memberontak Orang itu diikat kembali, matanya ditutup lagi, dan diseret dan langsung dilemparkan ke dalam sumur yang dikelilingi manusia haus darah itu dalam posisi kepala di bawah," tuturnya. Dengan perasaan takut dan tak karuan Sukitman menyaksikan para pahlawan revolusi itu diberondong peluru hingga dimasukkan ke dalam sumur Sampai ketika orang-orang itu mengangkuti sampah untuk menutupi sumur tempat memasukkan para korbannya.

Dengan cara itu diharapkan perbuatan kejam mereka sulit dilacak. Di atas sumur itu kemudian ditancapkan pohon pisang.

Sumpah pemuda adalah sebuah janji sejati dari para pemuda untuk negeri ini. Mereka berjuang demi sebuah kata yang dalam artinya, “merdeka”. ...

Sumpah pemuda adalah sebuah janji sejati dari para pemuda untuk negeri ini. Mereka berjuang demi sebuah kata yang dalam artinya, “merdeka”. Pemuda pemuda itu maju tampa takut guna menghalau musuh yang datang ingin menguasai negeri ini. dengan peralatan seadanya, berlindung di berbagai tempat yang kosong penghuninya, alangkah beratnya mempertahankan negeri yang dulunya kalah secara mental maupun persenjataan.


Merdeka telah berhasil di proklamasikan, para pemuda tersebut dengan bahagia dan bangga akan keberhasilan perjuangan mereka dan berfikir negeri ini akan tentram dan damai tampa adanya peperangan dalam maupun luar. Namun, baru saja merdeka sudah muncul masalah yang ke dua, yaitu tata negara. Mereka harus mengatur supaya negeri ini bisa damai meskipun beda keyakin, suku maupun ras yang masyarakat miliki. Mengatur negara terluas ke 3 di dunia ini pastinya tidaklah mudah untuk membuat semua menjadi satu tujuan tampa adanya perselisihan.


Semakin maju lagi, negeri ini mulai dijajah lagi. Akan tetapi bukan musuh fisik yang mereka hadapi, melainkan musuh digital. Pemuda yang dulunya mempertahankan negara dari hantaman senjata negara lain, kini tak bisa berbuat apapun karena usia. Hanya ada pemuda baru yang harus menangkis penjajahan digital ini, namun mereka malah menjadi sasaran bagi penjajahan modern tersebut.