Subscribe Us

Budaya seharusnya menjadi sebuah peninggalan bersejarah yang tetap di jaga sampai sekarang. Budaya harus dititipkan kepada generasi muda seh...

Budaya itu Bid'ah?



Budaya seharusnya menjadi sebuah peninggalan bersejarah yang tetap di jaga sampai sekarang. Budaya harus dititipkan kepada generasi muda sehingga menjadi generasi yang tau diri akan identitas bangsa, namun pada kenyataanya budaya hanyalah menjadi sejarah tertulis dan pada akhirnya budaya hanyalah cerita belaka. Begitupun adat daerah yang seakan mulai hilang tergerus zaman sampai-sampai diadopsi oleh negara lain.

Meskipun tergerus zaman dan ditinggalkan, tetapi masih ada adat dan budaya yang terus berjalan seiring meluasnya dakwah islam. Sehingga adat istiadat yang berbau selain islam dapat dikolaborasikan oleh para alim yang menyebarkan islam di pulau jawa, yaitu walisongo. Mereka ialah sekumpulan ahli ibadah yang berjuang menyebarkan agama islam di pulau jawa demi membebaskan manusia dari kegelapan dan kebodohan. Sehingga didapatlah beberapa adat istiadat yang pada awalnya merupakan milik agama lain sebelum islam tersebar yaitu agama Budha dan Hindu seperti beberapa kegiatan keagamaan dan kebudayaan di daerah tempat tinggal penulis, yaitu desa Payaman.

Desa ini terletak jauh dari perkotaan yang diapit oleh beberapa desa. Sisi utara bebatasan dengan desa Sendangaung dan desa Kranji, sisi timur berbatasan dengan desa Banyubang, sisi selatan berbatasan dengan desa Solokuro dan desa Godok, kemudian sebelah Barat berbatasan dengan desa Tenggulun. Walaupun terletak di tengah-tengah dan dikelilingi sawah dan hutan, desa Payaman merupakan desa yang ramai sehingga mempunyai kantor Bank BRI serta Indomaret. Desa yang dikepalai oleh bapak Musta’in Romli ini memiliki banyak dusun yang aktif ditempati penduduk.

Diantara dusun-dusun tersebut adalah dusun tempat berdirinya rumah penulis, yaitu dusun Sawo. Dusun ini terletak di sebelah tengah dari desa payaman dan merupakan dusun terpadat di desa Payaman. Sebelah utara dari dusun Sawo ada dusun Ringin, merupakan dusun pusat bertempatnya bagunan aktifitas kemasyarakatan seperti balai desa, masjid, pasar tradisional, sekolah dasar dan lain sebagainya. Selanjutnya ada dusun gayam, dusun Karangasem, dusun Palirangan, dusun Gobango yang memiliki waduk dan yang terakhir adalah dusun Sejajar yang terletak terpencil di dekat perbatasan desa Kranji.

Mayoritas agama masyarakat desa payaman adalah islam, itulah yang membuat desa Payaman memiliki 2 masjid yang dibangun oleh 2 ormas yang berbeda, yaitu NU dan Muhammadiyah. Kedua ormas ini rukun dan beriringan di desa kecil ini meskipun memiliki masjid yang berbeda. Misalnya pada waktu hari raya, terkadang salah satu ormas melaksanakanya duluan tapi mereka tetap menghormati ormas lainya dengan melaksanakan “kluputan” (mushofahah antar tetangga dan keluarga) pada waktu bersamaan dengan ormas lainya atau ketika NU megundang untuk “tahlilan” maka Muhammadiyah tetap memenuhi undanganya begitulah kerukunan antar ormas yang ada di payaman. ini sesuai dengan ajaran agama islam tentang pentingnya toleransi, tidak mengedepankan keegoisan salah satu umat dan alhamdulillah hal ini berjalan lacar di desa Payaman di setiap kegiatan.

Meskipun desa Payaman adalah desa yang termasuk desa kecil, tetapi desa ini sangat antusias dalam mengembangkan keilmuan masyarakat dibuktikan dengan banyaknya lembaga pendidikan yang tersebar di seluruh bagian dusun. Diantara lembaga pedidikan tersebut adalah Darul Maaarif (dusun Sawo), Roudlotul Mutaabidin (dusun Karangasem), Al-Aman (dusun Ringin), Perguruan Muhammadiyah Palirangan (dusun Palirangan), Perguruan Muhammadiyah Ringin (dusun Ringin). Selebihnya dari beberapa lembaga tersebut merupakan lembaga pendidikan terpisah seperti halnya SD, MI, SMP, dan lain sebagainya. Lembaga pendidikan ini masing-masing memiliki basis keagaman yang berbeda yaitu NU dan Muhammadiyah. Meskipun begitu tidak pernah ada isu taruwan siswa antar masdrasah, semua rukun dan saling memegang akidah masing masing.

Masyarakat desa Payaman sangatlah rukun terutama dalam hal gotong royong seperti halnya saat ini banyak yang menikah karena bulan Syawal maka sering juga ada budaya “landang”. Landang merupakan gotong-royong ibu-ibu dalam menyiapkan makanan secara bersama sama yang akan disajikan pada waktu walimah (pesta pernikahan). Para ibu-ibu pada kegiatan ini tidak mengharap balasan tapi mereka melakukannya secara sukarela karena mereka sudah tau tugas mereka dalam tolong menolong antar masyarakat dan ini sangat sesuai dengan ajaran agama islam yang mengedepankan ketentraman umat.

Sering juga di desa Payaman ada suatu kegiatan doa bersama yang biasa disebut sebagai “Bacaan” (suatu tradisi doa bersama disertai pembagian sedekah berupa nasi atau makanan rigan. Tradisi ini biasanya dilaksanakan oleh pribadi dalam rangka syukuran atau meminta doa kepada tetangga supaya dilancarkan pekerjaannya). Dalam kegiatan Bacaan, rata-rata yang menghadiri adalah kaum perempuan baik itu dewasa maupun anak-anak dengan maksud sebagai perwakilan dari setiap kelurga. Ini merupakan sebuah warisan dari sunan kalijaga yang awalnya memang bukan tradisi islam tapi merupakan tradisi Hindu/Buhda kemudian dalam penyebaran islam di pulau jawa, maka tradisi ini di plesetkan dengan disisipi doa yang bertujuan untuk doa bersama. Tradisi Bacaan memang termasuk dalam bid’ah tetapi bid’ah yang baik atau bid’ah hasanah.

Kearena mayoritas masyarakat Payaman adalah muslim, banyak kegiatan keagamaan di desa kecil ini. kegiatan keagamaan yang dimaksud penulis misalnya Dzibaan di masjid NU yang biasanya dilaksanakan pada malam selasa dan dihadiri oleh kebanyakan orang tua. Untuk pemuda biasanya melaksanakan di setiap lembaga pedidikannya pada malam Jum’at dengan diiringi rebana sedangkan di masjid NU tidak memakai rebana, mereka para orang tua lebih suka menggunakan Dzibaan klasik ala orang tua.

Kegiatan keagamaan yang lain adalah tahlilan yang pasti kita semua sudah tidak asing mendengarnya. Tahlilan ini biasanya dilakukan untuk memperingati hari kematian anggota keluarganya, misalnya pada malam hari kematiannya, malam 3 harinya, 7 harinya, 1 bulan 1 tahun, dan seterusnya. Walaupun kegiatan tahlil ini lebih dipercayai oleh masyarakat NU, tidak menutup kemungkinan masyarakat Muhammadiyah juga tetap menghadirinya dengan maksud menghargai orang yang mengundang. Kegiatan Tahlilan ini biasanya dihadiri oleh tetangga yang masih satu RT dan keluarga dari yang mengadakan. Dalam tahlil yang dibaca adalah potongan-potongan ayat Al-Quran sehingga dalam artian lain kita membaca Alquran secara bersamaan dan merupakan bidah hasanah juga.

Ada juga selain Dzibaan dan Tahlilan, yaitu haul pendiri yayasan pendidikan yang biasa dilaksankan oleh masing masing lembaga pendidikan. Event keagamaan yang wajar di seleruh penjuru Indonesia dengan didalamnya ada berbagai acara mulai dari sejarah, doa bersama, ziarah kubur, tahlil dan lain sebagainya acara ini bertujuan untuk mengenang jasa pendiri lembaga pendidikan yang membawa desa Payaman semakin maju dengan pemikiran yang terpelajar. Penulis pernah mendengar suatu pernyataan pada saat mengaji di pondok, yaitu mengapa Nabi diperingati hari lahirnya sedangkan para alim ulama diperingati hari wafatnya (haul)? Kemudian dijawab oleh gurunya “Nabi sudah pasti baik dari awal sampai akhir sedangkan para ulama kita tau mereka baik pada akhirnya” begitulah alasanya.

Dari dulu hingga sekarang tidak banyak budaya dan adat istiadat yang ada di desa Payaman karena desa payaman tergolong desa yang sudah kenal islam sejak tempat ini disinggahi penduduk. Jadi kebanyakan adat dan budaya masyarakat adalah budaya yang diwariskan oleh walisongo.Walaupun sudah banyak lembaga pendidikan di desa Payaman, namun masih belum ada satupun perguruan tinggi di desa ini padahal di sesa kranji sudah terdapat perguruan tinggi. Jika dilihat dari segi masyarakatnya mungkin sangat cocok untuk dibuka satu perguruan tinggi, karena sebab itu banyak lulusan sekolah menengah di desa Payaman melanjutkan pendidikan di luar desa maupun luar kota, padahal mahasiswa dan lulusanya memiliki peran yang sangat penting bagi perkembangan desa.

Mahasiswa sebagai agent of change memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan sebuah desa, pada perjalanannya mahasiswa bertugas sebagai penerus generasi tua yang pada saat ini butuh banyak pengganti. Mahasiswa dalam mengganti generasi tua seharusnya bisa masuk dengan mudah karena teknologi yang semakin cocok dengan pemuda saat ini. mereka dapat menjadi apapun seperti halnya mahasiswa di desa payaman yang mayoritas dari mereka bersekolah tingi di luar desa namun mereka kembali ke desa Payaman lagi, TU balai desa Payaman salah satunya. Beliau patut dicontoh dalam perkembangan desa yang semakin maju dengan teknologi. Kita dapat menirunya dalam bidang yang kita kuasai misalnya penulis dalam bidang pendidikan dapat membatu mengembangkan kualitas adik-adik yang masih bersekolah di desa.

0 komentar: