Mirisnya minat baca di
Indonesia sangat dirasakan terutama bagi mayoritas warga negara yang beragama
Islam, mengabaikan ayat pertama al-Qur’an yang turun. Begitulah pendapat Arifin
Elham Saputra ketika diwawancarai terkait minat baca mahasiswa pada 15 Oktober
2024.
Arifin merupakan mahasiswa
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (disingkat dengan UIN
Malang). Dia masih melaksanakan pendidikan di universitas tersebut pada jurusan
Pendidikan Agama Islam dan telah menempuh tujuh semester hingga saat ini. Buku
merupakan sahabatnya dimanapun dia berada, waktu sempit tak membiarkannya
berpisah dari rutinitas yang telah dia jalankan.
Wawancara yang telah
dilaksanakan di Masjid tarbiyah UIN Malang, mengupas pendapat dari Arifin
mengenai kebutuhan mahasiswa pendidikan saat ini. Dia berpendapat bahwa
peningkatan kualitas guru dapat didongkrak dengan meningkatkan minat baca buku
oleh calon pendidik yang sedang menempuh pendidikan guru.
“Membaca buku adalah
kewajiban mahasiswa”. Penghobi membaca ini memberikan penguatan terhadap
pentingnya membaca buku. membaca buku telah dilakukan secara rutin oleh
mahasiswa pendidikan agama satu ini, menyempatkan diri membaca buku telah dia
lakukan setiap hari. Pemuda ini berharap mahasiswa lainnya juga memiliki
rutinitas produktif dengan membaca buku.
UNESCO
sebagai badan pengelola pendidikan dari PBB menyebutkan bahwa indeks minat baca
masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Secara persentase minat baca
Indonesia masih di angka 0,001% dalam artian lain hanya 1 diantara 1000 yang
memiliki minat baca.
Kementerian Komunikasi dan
Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo) menyebutkan dalam laman resminya
tentang hasil riset berjudul “World’s Most Literate Nations Ranked’ yang
dilaksanakan oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu menyatakan
bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara pada bidang minat
baca. Indonesia persis dibawah Thailand (59) dan diatas Bostwana (61).
Meskipun dunia mahasiswa
selalu padat dengan kegiatan kampus dan tugas-tugas yang membludak, Arifin
tetap menyempatkan diri membaca dimanapun ia berada. Waktu diantara pergantian mata
perkuliyahan bukan hambatan baginya untuk tetap membaca, bahkan bisa menjadi
kesempatan bagus untuk mengisi waktu luang baginya.
Pada masa ini, E-book
telah populer pada seluruh kalangan terutama mahasiswa. E-book menjadi pilihan
membaca buku kalangan anak muda karena mudah diakses dan dibawa kemanapun
selama ada perangkat untuk membukanya.
Bertahan dengan buku fisik
menjadi pilihan Arifin dalam menunjang hobi membacanya. Pembaca satu ini kurang
suka membaca E-book karena pusing ketika menatap monitor terlalu lama. Nuansa
membaca juga berkurang ketika membaca E-book meskipun keduanya sama-sama
menyajikan informasi. Dia tetap bersikukuh memilih buku fisik daripada E-book.
“Setiap satu bulan minimal
saya harus beli buku”. Selain rutin membaca, Arifin juga rutin dalam membeli
buku di Gramedia ketika kondisi keuangannya sedang baik. Rutinitas tersebut
dilakukannya pada saat kondisi mendukung, ketika ada keperluan yang lebih
mendesak maka mengurungkan niat menjadi pilihan terbaiknya. Selain membeli
buku, jalan-jalan ke gramedia juga dia sempatkan ketika ingin membaca atau saat
sumpek. Tanpa membeli, hanya untuk melihat buku saja dapat meningkatkan mood
menurutnya.
Dikutip dari Direktorat
Jenderal Kekayaan Intelektual Kementrian Hukum & HAM R.I. “Hak Cipta
merupakan salah satu bagian dari kekayaan intelektual yang memiliki ruang
lingkup objek dilindungi paling luas, karena mencakup ilmu pengetahuan, seni
dan sastra (art and literary) yang di dalamnya mencakup pula program komputer”.
Buku merupakan salah satu karya yang masuk dalam kriteria Hak Cipta, baik berupa
terbitan kertas maupun E-book.
Sebagai seorang pembaca dan
penikmat buku fisik, pemuda 22 tahun ini tidak setuju dengan cara mendapatkan
buku yang mengandung unsur illegal seperti buku bajakan atau buku PDF yang
diperoleh secara illegal. Perilaku tersebut jelas menyalahi Hak Cipta, tetapi
Arifin menambahkan bahwa beberapa jenis buku dapat diperbanyak dan dibagikan denga
bebas tanpa menyalahi aturan Hak Cipta.
Mengingat cara
meningkatkan kualitas guru dapat melalui peningkatan minat baca, Arifin memberikan
beberapa tips untuk para pembaca. membaca buku dengan topik yang disukai merupakan
tips awal bagi seorang pembaca, kemudian membeli buku yang diminati menjadi
tips lanjutan dengan maksud memberikan beban moral pembaca karena sudah membeli
tetapi tidak dibaca.
Arifin juga berpesan kepada masyarakat yang sudah terbiasa membaca buku jangan merasa paling bijaksana, dan untuk masyarakat yang sudah terbiasa membaca untuk mulai membaca buku untuk membuka gerbang ilmu pengetahuan.

0 komentar: